Blog | Mohamad Rido Support Categories License
Pengalaman Sebelum & Sesudah Operasi Hernia Inguinalis Lateral

Pengalaman Sebelum & Sesudah Operasi Hernia Inguinalis Lateral

April 14, 2020

Secara umum hernia merupakan penonjolan (protrusi) isi suatu rongga melalui defek atau bagian lemah dari dinding rongga bersangkutan. Pada hernia abdomen, isi perut menonjol melalui defek atau bagian lemah dari lapisan muskulo-aponeurotik dinding perut.

Baca juga: Tips dan Gaya Hidup untuk Penyandang Hernia

Menurut sifatnya, hernia dapat disebut hernia reponibel jika isi hernia dapat keluar masuk. Keluar jika berdiri atau mengedan, dan masuk lagi ketika tidur atau didorong masuk perut. Jika isi kantong tidak dapat direposisi kembali ke dalam rongga perut, hernia disebut hernia ireponibel. Ini biasanya disebabkan oleh perlekatan isi kantong pada peritoneum kantong hernia. Hernia yang tidak ada keluhan nyeri ataupun tanda sumbatan usus disebut hernia akreta. Sedangkan hernia yang isinya terjepit oleh cincin hernia sehingga isi kantong terperangkap dan tidak dapat kembali ke dalam rongga perut disebut hernia inkarserata atau strangulate. Kurang lebih sekian penggalan kalimat berkaitan tentang hernia yang bisa saya sampaikan di sini, selebihnya sudah di sampaikan secara detail oleh dokter spesialis yang lebih berkompeten di bidangnya pada artikel-artikel di beberapa situs web. Pada artikel ini berisi tentang pengalaman saya mulai dari persiapan sebelum operasi hingga selesai operasi.

Artikel ini saya ketik tepat setelah satu tahun saya operasi, “hil dextra reposible” seperti itulah yang tertulis jelas pada berkas yang saya bawa pulang dari rumah sakit swasta tempat saya operasi. “hil” di sini dimaksudkan singkatan dari hernia inguinalis lateral. Mengenai nama rumah sakit dan nama dokter spesialis yang menangani tidak bisa saya publikasi di artikel ini, tapi jika ingin tahu bisa hubungi saya memalui kontak blog ini dengan senang hati saya akan menjawab. Sebelumnya saya mohon maaf jika rangkaian kalimat yang saya sampaikan terlihat berantakan. Jujur saja saya sudah lama tidak menulis, dan lebih sering membuat konten.

Saya berangkat menuju rumah sakit sendirian, lebih tepatnya menggunakan jasa transportasi online. Mengingat surat izin berkendara sudah berakhir masa tenggang dan belum sempat buat baru. Persiapan dari rumah hanya membawa kartu identitas, kartu debit, smartphone, beberapa lembar uang tidak sampai 200 ribu untuk bayar transportasi dan untuk berjaga-jaga jika ada keperluan lainnya. Sampai di rumah sakit saya hanya cetak nomor antrian saja, karena sehari sebelumnya saya sudah mendaftar sebagai pasien rawat jalan ke salah satu dokter spesialis bedah melalui aplikasi android yang disediakan oleh pihak rumah sakit di google play store. Setelah menunggu antrian kira-kira satu jam lebih di depan ruangan dokter tersebut pratik, akhirnya giliran saya untuk masuk. Di dalam ruangan saya menyampaikan ingin segera operasi hernia, kemudian dokter menanyakan sejak kapan saya mengalami dan saya jawab sejak saya masih kecil. Setelah itu dokter menyuruh saya berbaring di bed untuk memeriksa sebentar dan memberikan saya pertanyaan ingin operasi hari ini atau seminggu lagi. Karena hari itu tidak ada persiapan dan hanya berniat untuk memperoleh informasi akhirnya saya memilih seminggu lagi yaitu tepat hari kamis. Selanjutnya dokter menjelaskan besarnya biaya operasi yang harus saya keluarkan, serta langsung mendaftarkan saya sebagain pasien untuk ruangan rawat inap sesuai kelas yang saya pilih dari tiga kelas yang disampaikan meskipun nanti pada hari H masih bisa memilih lagi.

Tidak ada pertanyaan apapun yang ingin saya sampaikan saat itu, melainkan dokter tersebut yang menanyakan apakah ada halangan atau tidak di hari kamis nanti terkait hal-hal yang bersifat pantangan atau larangan dalam adat kepercayaan orang jawa. Kemudian saya jawab tidak ada, akhir dari konsultasi saya diminta nomor ponsel yang bisa dihubungi dua hari sebelum operasi terkait persiapan apa saja yang harus saya lakukan. Sebelum keluar ruangan diberikan kertas bertulisan untuk proses administrasi hari itu dan diberikan nomor kontak rumah sakit ketika mengurus administrasi yang tidak sampai 100 ribu. Dokter spesialis bedah yang saya tuju adalah seorang wanita, bukan apa-apa tapi alasan pribadi saya yaitu track recordnya.

Tiga hari sebelum operasi saya mendapat kabar dari perawat rumah sakit untuk mencukur bulu kemaluan, karena letak bagian yang akan di operasi berdekatan dengan kemaluan dan pada hari kamisnya nanti mulai jam sebilan pagi menjelang operasi dianjurkan sudah tidak makan dan minum (puasa). Kamis 09 Mei 2019, sekitar pukul 8 pagi berangkat dari rumah menuju rumah sakit bersama kakak saya ditemani dua orang lagi untuk menemani kakak saya mengurus administrasi apabila saya masuk ruang operasi dan rawat inap nanti. Persiapan yang saya bawa dari rumah hanya kartu identitas, kartu debit yang dan smartphone. Sedangkan kakak saya membawa tikar lipat dan bantal untuk persiapan menginap semalam. Setelah menunggu beberapa jam, sekitar jam 11 pagi saya masuk ruang untuk dipasang selang infus di tangan kiri dan di tangan kanan kalau tidak salah diberikan suntik antibiotik. Kemudian kakak saya dipanggil untuk mengurus administrasi, di sini membayar sejumlah uang muka sebelum operasi. Setelah beberapa saat saya dibawa dengan kursi roda menuju ruang ganti pakaian yang letaknyanya berbeda tempat..

Di dalam ruang ganti pakaian untuk operasi, kakak saya dibantu seorang perawat perempuan. Karena tangan kiri saya sudah terpasang selang infus, jadi cukup sulit untuk ganti pakaian sendiri. Meskipun pakaian dilepas semua (diganti pakaian operasi), tapi dalam proses gantinya tidak terbuka semua, jadi tidak merasa malu. Setelah ganti pakaian saya berbaring di ranjang/tempat tidur dorong di ruang tersebut, kemudian perawat menyuruh untuk berdoa bersama sebelum saya diantarkan menuju ruangan operasi. Karena keluarga/kerabat yang menemani hanya sampai di ruang ganti saja. Selanjutnya dipersilahkan untuk berada di ruang tunggu sampai operasi selesai.

Di atas ranjang/tempat tidur dorong, saya di bawa menuju ruang operasi melalui lift dan kakak saya menuju ruang tunggu. Sebelum masuk ruang operasi saya berada di tempat seperti lorong sterilisasi (seperti lorong ruang kamar operasi), tidak langsung masuk karena di dalam juga antrian pasien lain sebelum saya. Saya tahu hal ini karena saya mendengar percakapan antar perawat/dokter yang ada di sana. Di lorong tersebut suhunya juga lebih dingin dari ruangan normal lainnya yang sudah terpasang ac/pendingin ruangan. Beberapa menit kemudian saya bisa masuk sesudah disterilisasi dari operasi pasien sebelum saya. Ketika berada di dalam ruang operasi saat pertama kalinya dalam hidup saya, yang bisa saya deskripsikan adalah suhu rungan yang benar-benar dingin. Tentu saja hal tersebut salah satu prosedur untuk menjaga ruang operasi tetap steril, bahkan daun pintunya sangat tebal (kira-kira lebih dari satu jengkal tangan) seperti pintu khusus brangkas menyimpan uang. Di dalam ruang operasi saya diangkat dua perawat/dokter laki-laki masih muda, dalam kondisi berbaring dari ranjang/tempat tidur dorong ke tempat tidur khusus operasi, dipasang alat seperti tensi darah yang muncul pada layar monitor,di atas saya juga ada banyak lampu khusus operasi dan diberi selimut juga.

Setelah mereka selesai dengan tugasnya, dan keluar ruangan. Datang dua dokter (laki-laki) khusus anestesi yang akan memberikan suntikan bius lokal pada area punggung. Dari posisi tidur saya dibangunkan, menjadi posisi duduk kaki tetap lurus dan badan sedikit membungkuk ke depan. Kemudian di baginan ruas-ruas tulang belakang saya merasakan disemprotkan cairan (seperti spray anestesi). Karena setelah sekitar lebih dari 15 detik dokter baru mulai menyuntikan anestesi dan benar saja rasanya dingin seperti tetesan air es, tidak terasa sakit sama sekali. Setelah itu saya berbaring lagi dan kedua dokter tersebut menunggu di depan pintu, sesekali memeriksa dan menanyai apa sudah mulai terasa kebas pada bagian yang disentuh. Ketika anestesi ini mulai breaksi ke bagian kaki awalnya terasa aneh seperti kesemutan, dan kemudian perlahan tidak terasa lagi. Anestesi ini bersifat lokal, artinya saya masih sadar. Karena anestesi ini bekerja mulai dari perut (bawah tulang rusuk) sampai ujung kaki.

Setelah diperiksa terasa kebas pada bagian yang ditunjuk, kedua dokter tersebut pergi meninggalkan ruangan. Di dalam ruangan operasi saya mulai merasakan kedinginan (hampir menggigil). Kira-kira 15 menit sampai setengah jam saya berbaring, dokter wanita dan beberapa perawat (sekitar empat orang) mulai memasuki ruang operasi dan mulai mengenakan pakaian operasi. Sebelum memulai operasi, dokter tersebut mengajak perawat untuk berdoa terlebih dahulu dan memberi tahu saya operasi akan dimulai. Di sini saya tidak merasa malu, meskipun saya tahu tubuh bagian perut ke bawah terbuka dan di lihat banyak orang. Saya hanya pasrah dan semoga di masa depan saya tidak masuk ruang operasi lagi, itu yang terlintas di pikiran saya saat itu. Ketika operasi sudah berjalan, saya mulai kedingan sampai menggigil. Bahkan dokternya sampai tahu kalau saya kedinginan, “dingin ya?” upcapnya ke arah saya. Kemudian saya berinisiatif untuk menutup muka saya sampai hidung, agar udara yang saya hirup tidak terasa dingin.

Saat operasi masih berjalan, saya tiba-tiba penasaran seperti apa bentuknya. Karena saya ingat pada awal sebelum operasi, akan dibuka sayatan 10 cm. Di posisi berbaring ini saya benar-benar tidak bisa melihat perut saya, kemudian saya mencoba lihat ke lampu di atas yang digunakan untuk menerangi operasi. Saya coba lihat sisi lampu yang bisa memantulkan bagian di bawahnya, meskipun sedikit sulit saya coba lebih fokus. Tiba-tiba saya merasa ngeri melihat dalamnya lubang syatan yang dilonggarkan. Seketika saya tidak berani melihatnya lagi.

Beberapa waktu kemudian dokternya bilang ke saya “beruntung hernianya tidak lengket padahal dari kecil”. Kemudian saya disuruh sedikit berdeham (batuk-batuk kecil) agar bigian yang dimaksud dokter bisa naik lagi. Saya bilang sulit, tapi disuruh sebisanya, sesuai aba-aba dokter. Kemudian kata dokternya operasi sudah selesai dan mulai menjahit bagian dalamnya. Setelah selesai menjahit bagian dalam, dokternya meninggalkan ruang operasi. Bagian kulit luar dilanjut perawat laki-laki (kurang tahu apa ini dokter juga atau benar-benar perawat).

Setelah semuanya selesai saya diangkat lagi ke ranjang/tempat tidur dorong dan dibawa ke ruang pemulihan yang letaknya sebelah lorong pertama saya antri sebelum operasi. Di sini saya masih berasa dingin menggigil, sampai perawat laki-laki yang mengantar bilang “dingin?” saya jawab “iya”. Beberapa saat setelah pergi, perawat itu datang lagi membawa suntikan yang dimasukan ke lubang infus dekat tangan saya (bukan di kantong cairan infus). Tiba-tiba dari ujung tangan saya langsung terasa hangat yang mulai menjalar ke lengan dan dinginya perlahan tidak terasa. Perawat tersebut bilang “sudah mulai kurang dinginnya?” saya jawab “iya”. Operasinya selesai jam dua, awal sebelum oprasi dokter bilang ke saya jam 11 dimulai (ketika memberi tanda lingkaran di perut saya dengan alat seperti spidol, tepanya sebelum pasang selang infus). Di ruangan pemulihan ini saya di suruh berbaring dan menunggu sampai jam lima sore. Beberapa menit kemudian juga ada pasien laki-laki sekitar 40an tahun, masuk ke ruang pemulihan tepat disebelah saya. Sempat ngobrol sebentar tentang operasinya, tapi saya lupa karena sudah mulai mengantuk. Jadi tidak terlalu fokus mendengarkan.

Setelah jam lima sore saya diangkat lagi ke ranjang/tempat tidur dorong yang berbeda. Kemudian saya di bawa ke ruang perawatan (rawat inap/jalan kurang tahu saat itu) melalui lift. Ketemu kakak saya diruang tunggu dan sama-sama menuju ruang perawatan. Di dalam ruang tersebut ada satu pasien tapi lupa sakit apa, beserta keluarga mereka yang menunggu. Ketika oprasi ini kalau tidak salah bertepatan menjalankan ibadah puasa, jadi kedua orang menemani kakak saya pulang dan disuruh kakak saya mampir dan buka puasa di jalan. Sedangkan kakak saya akan menginap di dalam ruangan tempat saya dirawat. Malamnya dokter yang operasi saya datang untuk memeriksa keadaan saya dan memberitahu “nanti boleh makan kalau disuruh susternya”. Jam delapan malam ada suster yang mengantar makanan saya dan pasien sebelah, karena belum disuruh jadi makan tersebut cuma diletakkan kakak saya di meja. Sekitar jam sembilan malam perut bagian bawah terasa menojol, sekilas saya langsung sadar kalau ini harus segera buang air kecil, tapi tidak ada rasa kontraksi buang air kecil karena sehabis operasi. Saya sampaikan ke kakak saya, juga bingung dan bertanya pada suster yang berjaga, suster tersebut bilang “kalau belum bisa jalan, apa mau di pasang selang?” saya jawab “tidak perlu” kemudian suster tersebut pergi.

Tepat jam 11 malam saya tekatkan dengan berusaha bangun pelan-pelan dari posisi miring ke kiri (kaki kiri menyentuh lantai dulu). Setelah sudah bisa benar-benar berdiri saya jalan pelan-pelan sambil pegang kantong infus menuju kamar mandi yang letaknya tepat di sebelah ranjang/tempat tidur saya dirawat. Cukup lama ketika buang air kecil kalau dibandingkan dengan orang normal. Setelah selesai rasanya cukup lemas dan pelan-pelan kembali ke ranjang/tempat tidur.

Keesokan paginya ketika ada suster datang membawakan sarapan pagi, kakak saya menyampaikan perihal makanan semalam, dan intinya miss komunikasi saja. Karena saya dan kakak pikirnya ada suster lagi yang tugasnya memberi tahu jadwal makan tiap pasien sendiri-sendiri, apalagi untuk pasien yang baru selesai operasi. Ini juga pengalaman pertama saya dirawat di rumah sakit. Waktu itu sampai jam sebilan dan sepuluh malam saya masih berharap suster lain yang akan memberi tahu untuk segera makan, tapi ternyata tidak ada. Jadi kalau dihitung saya puasa selama 24 jam penuh dari jam delapan pagi ke paginya lagi, dan ada tambahan cairan infus yang masuk ke tubuh saya mulai jam 10 pagi.

Sekitar jam sembilan dokter yang menangani saya datang untuk memeriksa, serta menyuruh perawat mengganti perban. Dokternya juga menanyakan kapan saya pulang, langsung saya jawab hari ini. Kemudian diberi tahu nanti sore sudah bisa pulang karena untuk menyesuaikan dengan jadwal ruang perawatan saya yang awal masuknya jam 5 sore kemarin. Sore sekitar jam tiga ada perawat datang untuk ganti perban saya. Jam empat sore selang infus yang terpasang mulai dilepas dan ganti baju. Sesudah mengisi lebar kertas perihal layanan dan menerima amplop yang berisi detail keterangan saya di operasi. Tepat sebelum magrib saya keluar rumah sakit dengan jalan yang sedikit susah sebenarnya (masih nyeri) menuju tempat parkir. Saya pulang dengan pesan grabcar sendiri untuk menghindari kontraksi ketika melewati jalan yang berlubang dan juga jaraknya yang kira-kira 19 km dari rumah. Sedangkan kakak saya pulang nanti karena harus buka puasa.

Ketika di rumah pola makan saya jaga (tidak makan ayam, telur, ikan asin) lebih mengkonsumsi ikan gabus selama enam bulan agar luka operasi cepat pulih (diolah dengan cara direbus atau goreng), meskipun dokter memperbolehkan makan apa saja (tidak ada pantangan). Karena dari pengalaman saya dulu luka ditangan kanan sampai di jahit, saya makan ayam. Luka jahitan ditangan jadi sedikit bernanah dan terasa gatal. Untuk mandi saya hanya bisa keramas dengan cara membungkuk, intinya bagian perut tidak kena air. Kontrol ke rumah sakit saya hanya sekali dan selanjutnya disuruh ganti perban tiap hari sekali (saya lakukan sendiri).

Bersambung…

Next
Prev